Minggu, 08 Juni 2008

Teh Cegah Gigi Berlubang

Teh Cegah Gigi Berlubang..!

Oleh: Kompas

Bicara soal kesehatan gigi tak pernah lepas dari senyawa fluoride. Senyawa ini memang berperan mencegah terjadinya gigi berlubang.
Salah satu bukti, sebelum PD II, sebagian besar anak berusia di bawah 12 tahun, di Australia mengalami gigi berlubang. Setelah fluoride diketahui mampu mencegah gigi berlubang dan digunakan dalam pasta gigi, jumlah anak penderita gigi berlubang berkurang secara drastis.

Drg. Felix Aryadi Joelimar MD.SC, dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia mengungkapkan hal itu dalam diskusi kesehatan gigi masyarakat di Indonesia pada 25 September 2002, yang diselenggarakan "Triple Ace Corporation", produsen pasta gigi "Antiplaque". Disebutkan, pemakaian fluoride bisa dengan cara dimasukkan ke dalam air minum dengan takaran tertentu, pasta gigi, atau tepung. Tentu saja tak semuanya ekonomis. "Yang paling ekonomis adalah melalui pasta gigi atau air minum," jelasnya.

Fluoride sebenarnya juga diperoleh dari bahan makanan yang kita konsumsi. Menurut drg. Felix pada dasarnya semua tanaman mengandung fluoride. Hanya saja kandungannya tidak sama. Ada yang tinggi, ada pula yang rendah. Salah satu tanaman yang kaya fluoride adalah teh, terutama yang berasal dari pucuk teh berkualitas baik.

Jadi, kita bisa mencegah gigi berlubang dengan fluoride dari berbagai sumber. Yang penting, jangan berlebihan, karena justru bisa bikin korosi gigi. Nah lo! (Gde)





MAKANAN UNTUK PERLINDUNGAN MATA

MAKANAN UNTUK PERLINDUNGAN MATA

Oleh: Mno

Mata merupakan indera yang sangat kita butuhkan . Tanpa mata kita tidak dapat melakukan pekerjaan dan berbagai kegiatan secara maksimal.
Untuk itu upaya maksimal dalam menjaga mata perlu kiranya kita lakukan diantaranya adalah dengan mengkonsumsi berbagai makanan yang mengandung vitamin A.
Selama ini wortel terkenal sebagai sayuran berhasiat untuk melindungi penglihatan. Padahal dalam banyak studi memperlihatkan, bahwa untuk melindungi mata diperlukan berbagai jenis nutrient. Dikenal berbagai bahan makanan sebagai sumber vitamin A : Daun katuk., Wortel rebus, Andaliman, Lamtoro Gung, Tempe lamtoro Gung, Daun singkong rebus, Tepung ikan, Ikan belida, Telur, tepung teri, belut dan jagung.
Berikut contoh makanan/buah yang mengandung 3 nutrient utama untuk melindungi penglihatan :
1. Telur.
Kuning telur kaya lutein yaitu suatu zat anti oksidan yang dapat mengurangi resiko berkembangnya katarak. Sumber makanan lain yang juga kaya lutein antara lain brokoli, brussels sprout dan buah kiwi.
2. Jagung
Jagung mengandung berbagai macam, zat makanan diantaranya sumber terbaik dari zeaxanthin yaitu zat yang dapat membantu mencegah terjadinya age-related macular degeneration - masalah penglihatan yang terjadi berkaitan dengan usia menua yaitu kehilangan penglihatan pada orang-orang lanjut usia. Antioksidan ini juga ditemukan dalam buah jeruk.
3. Mangga
Mangga diketahui mengandung betakarotin yang oleh tubuh kita diubah menjadi vitamin A seperti yang dibutuhkan. Vitamin A membantu mencegah rabun senja. Paprika merah juga banyak mengandung karotenoid yang sehat.
( Aura)





teknik bercinta ala sun ji(china)

Dalam kitab Su Ni Jing tercatat beberapa unsur mengenai teknik sukses dalam bersenggama. Di antaranya: Persiapan pria: Sebelum melakukan berhubungan seks, seseorang pria melakukan serangkaian persiapan, beruapa ketenangan, kestabilan napas, serta mengumpulkan gairah dan kemampuan seks dan vitalitas. Jika perlu mengkonsumsi obat kuat, suplemen atau vitamin.

Persiapan wanita: Para wanita menyiapkan diri untuk bersenggama dengan cara mengolah tubuh dengan pola: persiapan mental, busana yang menggairahkan, melembutkan kulit, dan menyegarkan napas.
Maka dengan demikian wanita akan sanggup melayani dan menikmati hubungan seks.

Konsentrasi: Sewaktu sedang melakukan senggama harus terkonsentrasi ke sana. Pikiran harus santai dan terfokus bahwa Anda sedang bersama orang yang paling Anda cintai.

Inisiatif: Dalam bersenggama maka masing-masing pasangan harus mengambil inisiatif untuk merangsang terlebih dahulu, dengan demikian maka akan tercipta suatu permulaan yang romantis. Pria atau pun wanita yang memulainya tidak ada masalahnya.

Setulus hati: Pada saat bersenggama harus dengan setulus hati penuh rasa cinta dan gairah. Tanpa hati yang tulus meskipun seberapa cantik pasangan Anda, namun tetap tak akan membangkitkan gairah yang sempurna.




Ruangan dan suasana: Ruang dan suasana hendaknya diatur dengan penataan yang benar, ranjang yang bersih. Sirkulasi udara dalam ruang juga harus baik, jangan terlalu panas, lebih baik berhawa agak dingin. Jangan terlalu terang, dan berikan sedikit wewangian agar suasana lebih romantis. Ini memang bukanlah suatu keharusan, namun, merupakan hal yang perlu diperhatikan. Apabila Anda hendak sukses dalam bersenggama, ruangan yang demikian setidaknya dapat mempengaruhi gairah hingga 30%. Itulah sebabnya dalam cerita seks Tiongkok kuno, ranjang Kaisar selalu banyak persiapan pendahuluan sebelum hubungan seks dilakukan.

Pose bervariasi: Catatan tentang seks dari kitab negeri tirai bambu sangat mempesona. Mereka menulis dalam hubungan seks dari berbagai pose dan variasi.

Maksimal: Sewaktu melakukan hubungan seks jangan terburu nafsu. Usahakan pemanasan (fore play) yang lebih lama, agar dapat membawa pasangan Anda ke puncak kenikmatan. Karena bila pasangan Anda belum terangsang berat, vagina belum cukup terlumuri tapi penis segera dimasukkan, justru akan menyakitkan pasangan.

Orgasme: Agar sukses dalam berhubungan seks, maka hendaknya berusaha menciptakan orgasme. Tunggu sejenak manakala pasangan belum siap. Setelah terlihat tanda pasangan siap, lakukan penetrasi secara penuh.

Kesehatan Kulit

Hampir semua organ tubuh akan terpengaruhi seiring bertambahnya umur. Ketika usia merambat ke angka 50 lebih, salah satu yang berubah dengan nyata adalah kulit. Elastisitas kulit yang berkurang, rambut pada kulit berubah memutih atau abu-abu, dan menipisnya rambut. Itulah tanda-tanda awal penuaan. Tentu saja, ini amat berpengaruh terhadap penampilan.

Bagaimana kulit menua? Kolagen adalah protein yang bertanggung jawab untuk menjaga kulit agar tetap elastis dan kenyal. Secara alami, kolagen akan berkurang seiring pertambahan usia. Namun, pada mereka yang sering terkena sinar matahari, proses ini dipercepat karena sinar matahari merusak serat kolagen. Sinar ultraviolet dari matahari juga merusak lapisan atas kulit, yaitu tempat sel baru dibentuk. Akhirnya kulit akan semakin tipis. Selain itu, kulit juga akan keriput. Yang lebih dahulu mengalaminya adalah kulit tangan dan wajah. Kelenjar sebum, yang biasanya mengeluarkan senyawa lubrikan ke permukaan kulit, juga akan semakin tak aktif ketika orang menginjak usia senior. Akibatnya, kulit menjadi kering dan tampak bersisik.

Berbagai hal ini, selain mempengaruhi penampilan, terkadang juga terasa mengganggu. Salah satunya berupa rasa gatal. Jika rasa gatal yang dirasakan terlalu berat, dokter akan merekomendasikan beberapa terapi yang tepat.

Namun jangan khawatir ada cara untuk membuat penampilan Anda tetap tampak segar dan menyehatkan. Coba simak tips berikut, dan nikmati masa usia emas dengan senang.

Hindari paparan sinar matahari
Lebih dari 90 persen kerusakan kulit disebabkan oleh sinar matahari. Sinar ultraviolet merupakan penyebab utama penuaan yang menimbulkan keriput dan tanda penuaan datang lebih dini. Sinar matahari juga dapat menyebabkan kerusakan serat elastin dan kolagen sehingga kulit kehilangan keelastisitasannya dan membentuk kantung. Sinar ultraviolet B dapat menyebabkan kanker kulit.

Sebisa mungkin, hindari paparan sinar matahari secara langsung (terutama di atas pukul delapan pagi). Gunakan pakaian lengan panjang. Oleskan tabir surya dan hindari pergi pada siang hari.

Hindari radikal bebas
Salah satu yang harus dihindari demi kulit yang sehat adalah paparan radikal bebas, mulai dari asap rokok, sampai polusi.

Nikotin yang terkandung dalam rokok dapat menyebabkan pembuluh darah mengerut sehingga kulit kekurangan oksigen. Lama kelamaan kulit akan lering dan pucat. Bahan kimia yang terkandung dalam rokok akan merusak serat kolagen dan elastin, yaitu protein vital yang menyangga kulit. Kunyah permen bebas gula atau minum air putih dan teh herbal tanpa gula, makan apel atau wortel sehingga dapat membantu membuang keinginan untuk merokok.

Diet sehat
Buah dan sayuran segar sangat baik untuk menjaga kesehatan kulit karena mengandung antioksidan dan vitamin A,C, dan E yang membantu menetralkan zat radikal bebas yang menyebabkan kerusakan kulit.

Air putih
Minumlah minimal dua liter per hari agar dapat membantu membuang zat toksin keluar dari tubuh sehingga kulit tampak bercahaya. Kurang kafein, yaitu diuretik alami yang dapat membuat tubuh mengalami dehidrasi.

Cukup tidur
Pembaruan sel-sel kulit terjadi pada malam hari. Ketika Anda tidur darah mengalirkan oksigen dan zat gizi ke kulit lebih efisien karena pada saat itu otot-otot dan sistem pencernaan sedang dalam keadaan istirahat.

Olahraga teratur
Olahraga dapat meningkatkan aliran darah ke seluruh bagian tubuh. Selain itu, olahraga juga dapat membantu meningkatkan produksi serat kolagen, yaitu protein yang diperlukan kulit agar kesehatannya tetap terjaga.

Membersihkan kulit
Bersihkan kulit secara teratur, minimal dua kali sehari. Kotoran yang menempel pada kulit dapat menyebabkan kulit kelihatan kusam. Pilih produk perawatan kulit sesuai dengan jenis kulit. Cobalah untuk menghindari sabun yang terlalu kuat yang dapat menghilangkan kelembaban kulit. Jika perlu, tambahkan minyak khusus pada air mandi Anda dan gunakan pelembab yang cocok untuk kulit muka, leher, tangan dan tubuh setiap habis mandi. Sebaiknya pilih pelembab yang juga mengandung tabir surya. Pelembab dapat membantu agar lapisan atas kulit tak kehilangan kelembaban sehingga tampak lebih kenyal dan sehat. Namun ingat, pelembab tak dapat menggantikan kolagen. Oleskan pelembab saat kulit masih lembab dan hangat.

Berpikir positif
berpikirlah fleksibel, selalu terbuka terhadap berbagai ide dan bereksplorasi untuk belajar hal-hal baru. Saat stres melanda, belajarlah untuk mengatasinya. Jangan lupa pula untuk selalu bersyukur dan bersenang hati.
Jangan sampai Anda hanya tertawa sekali sehari! Selamat mencoba

Tip melawan depresi tanpa obat antidepresan

Efek samping yang mungkin ditimbulkan obat antidepresan tentunya merugikan penderita depresi. Untuk itu ada cara lain menghilangkan depresi dengan terapi nonobat. Berikut beberapa terapi yang diambil dari berbagai sumber.

· Berusaha untuk tetap bahagia. Lakukan hal-hal yang bisa membuat suasana hati Anda senang seperti memelihara binatang, liburan, pijat, relaksasi, atau apa saja yang membuat Anda bahagia.

· Terapi mental. Bicara pada diri sendiri dan menyusun kembali pikiran ke arah yang positif.

· Olah raga ringan. Banyak riset mengungkapkan olah raga ringan seperti aerobik meghilangkan kecemasan, meningkatkan nafsu makan, hasrat seksual, dan rasa menghargai diri sendiri.

· Psikoterapi. Konsultasikan masalah Anda dengan psikiater. Biasanya 4-5 bulan depresi bisa diatasi.

· Perlunya grup pendukung. Depresi menyebabkan rasa terisolasi. Kelompok yang mendukung menunjukkan bahwa anda tidak sendiri. Biasanya grup pendukung sangat menolong.

· Obat tradisional. Beberapa tanaman obat mempunyai efek antidepresan, yang paling bagus adalah tanaman St. John, MAO (Monoamine Oksidase) inhibitor natural. Selain itu, kava-kava, ginkgo, dan caffeine juga bisa membantu.

· Diet suplemen. Beberapa kekurangan vitamin-B6, B12, C dan folic acid, Thiamin, Niacin, Riboflafin, Biotin, dan asam pantotenat-dapat mengakibatkan depresi.

· Tusuk jarum. Organisasi Kesehatan Dunia mengenali akupuntur sebagai cukup efektif untuk depresi ringan sampai menengah.

· Musik. Seperti beberapa pengarang lagu telah menulis, musik dapat menyejukkan jiwa. Musik juga dapat meningkatkan rasa nyaman dan dapat membantu dalam perawatan depresi dan kecemasan.

· Relaksasi. Relaksasi atau meditasi dapat membantu mengurangi rasa cemas yang timbul karena depresi. (dhp)

Rabu, 04 Juni 2008

Kjeldahl Standard Operating Procedure

Kjeldahl Standard Operating Procedure
Specific references to Labconco equipment are made in this SOP. As the SOP was not provided by Labconco, those references remain unchanged. The method may be adapted to other similar equipment without difficulty.
Background information for the Kjeldahl procedure.
Required Equipment
· Micro digestion apparatus. Labconco 25 place block digestor; 25 digestion tubes of 250 mL capacity.
·
· Appropriate ventilation system to rid noxious fumes of digestion. The system of choice is a high capacity water vacuum aspirator.
·
· Analytical balance; accurate to 0.0001 g.
·
· Distillation system. Labconco Rapid Still II; capable of addition of 50% NaOH to neutralize digestate and production of 100 mL distillate in approximately 8 minutes.
·
· Appropriate safety equipment including: cotton lab coat; safety glasses or goggles; appropriate device for handling hot (> 100 degrees C) digestion tubes ( large flask tongs or a “hot hands” holder is highly recommended.)
· 250 mL Erlenmeyer flasks. One is required for each sample or standard to be analyzed. Minimum of 25 recommended.
·
· An electrical stirrer and stir bars are recommended, but not required.
· 25 mL manual burette, or appropriate auto titration system.
Required Chemicals and Supplies
· Low nitrogen weighing paper. Approximately 2 x 2 inch or larger.
·
· Glass, porcelain or aluminum oxide boiling stones.
·
· Catalyst (CuSO4) / acid / potassium sulfate solution. Ricca 2551 or equivalent.
·
· Concentrated sulfuric acid.
· 50% aqueous NaOH.
·
· Receiver solution; 4% aqueous boric acid with bromocresol green/methyl red mixed indicator. Ricca 1070 or equivalent.
· 0.1N HCl or 0.1N H2SO4. Ricca 3600, 8250 or equivalent.
·
· Distilled or de-ionized water.
·
· Assorted measuring pipettes; 20 mL, 30mL, 50 mL, 100 mL.
·
· Appropriate bottle-top dispenser or other accurate measuring device may be substituted without prejudice.
·
· Micro spatula(s).
Method
The method will be separated into three categories; Digestion (conversion of nitrogen in the sample to ammonia), Distillation (separation of the ammonia from the digestate and collection for analysis), and Titration (quantification of the ammonia and calculation of the initial protein concentration).
Digestion
1. Prepare sufficient 250 mL digestion tubes for the number of samples, standards and blanks to be analyzed. The tubes should be clean and rinsed with distilled or deionized water in order to eliminate contamination from previously run samples or foreign material.
2. Place a single sheet of weighing paper on the analytical balance and tare the balance. Using a micro spatula, transfer 1.0000 g of sample to be analyzed to the weighing paper. The acceptable range of sample weight is 0.9995 to 1.0000g. Sample should be homogenous. Samples that may not be homogenous in their native state should be thoroughly ground and mixed prior to being analyzed. For liquid or semi-solid samples, the 250 mL digestion tube may be tared on the balance and the sample directly weighed into the tube. **Note 1 at conclusion of Digestion.
3. Carefully fold the weighing paper, avoiding spilling the weighed sample. Transfer the paper to a clean 250 mL digestion tube. Label the tube with the sample identification number using an indelible marker.
4. Add four to five boiling stones or glass or ceramic chips to the digestion tube. Continue until all samples to be analyzed are completed.
5. Prepare one blank for each 10 samples to be analyzed. The blank preparation is accomplished by folding and placing a clean weighing paper into a 250 mL digestion tube and labeling the tube appropriately.
6. Add 30 mL of catalyst solution to each tube; sample, standard or blank. Carefully “aim” the tube away from the analyst or other present in the laboratory as the reaction with some analytes can be violent and result in the sample / catalyst mixture erupting from the tube. Add the solution slowly to minimize the likelihood of violent reaction.
7. Add 20 mL of concentrated sulfuric acid to each tube. The same precautions should be taken with the addition of acid. Significant heat will be formed in the addition of concentrated sulfuric acid to an aqueous solution and care should be taken to add the acid slowly to minimize boiling or violent reaction.
8. Continue steps 6 and 7 until all samples, standards and blanks have been prepared.
9. Transfer all samples simultaneously, using the carrier provided in the Labconco Digestion system, to the distillation unit.
10. When the samples are in place, turn the vacuum aspirator on its highest flow. Place the hood device over the top of the tubes to be digested. Do not place empty tubes in places of the block where no samples are to be analyzed.
11. Turn the temperature dial on the digestion to approximately 300 degrees C.
12. Significant fuming will occur early in the digestion process. A second ventilator such as a fume hood is recommended to eliminate the possibility of exposing the analysts to noxious fumes. Allow the reaction to occur for 15 to 20 minutes. At that time, increase the temperature setting to 350 degrees C.
13. Allow the reaction to continue for at least 15 additional minutes. If the fuming is still vigorous, continue an additional 15 for a total of 30 minutes at the higher temperature setting and full vacuum.
14. The total elapsed time will be a maximum of 45 minutes at this point. Lower the vacuum to approximately ½ the original water flow. Remove the sides from the Labconco tube support to allow air flow across the tubes. The goal at this point is to achieve a reflux of acid vapor in the tube. A “cloud” of acid vapor should be visible approximately 2/3 of the total height of the tube.
15. Allow the reflux to continue until the digestates are clear. Some adjustment of the temperature and vacuum flow may be needed to assure complete reaction without evaporating the sample(s) to dryness. Total digestion time should not exceed 1 ¾ hours.
16. When the digestion is complete, remove the samples from the digestor and set aside to cool. Samples may begin to form crystals as they cool. A solid cake should not be allowed to form. If crystals begin to form, proceed quickly to the next step. If crystals do not form, samples may be safely stored overnight in this form.
17. Carefully add 50 mL of distilled or deionized water to each sample. Again, the addition of water to a concentrated sulfuric acid solution will cause significant heat, and the sample(s) may boil. Carefully aim the opening of the digestion tube away from the analyst and anyone in the laboratory in order to assure their safety. Continue until all samples are diluted.

** Note 1. Some materials being digested will react very vigorously in the beginning, or will form large amounts of black particles on the sides of the digestion tube, which will not disappear during the digestion. The cause may be the sample matrix, or the high concentration of protein in the sample. The result will be poor reproducibility in the calculated results. In either case, the problem will likely be eliminated by reducing the sample weight by one-half to 0.4997 to 0.5003 grams.
Distillation
1. Turn on the power to the Rapid Still II. Confirm that it is connected to a tap water source, and that the water is flowing vigorously.
2. Visually inspect the 1 L water supply to the steam source and verify that it is filled to the indicator mark with tap water. If it is not, press the fill button on the front of the Rapid Still II until the fill level is reached. When the reservoir is full, turn on the power to the steam source.
3. Verify that the 50% NaOH supply is attached to the Rapid Still II, and that there is sufficient solution in the supply to run the samples to be analyzed. It will require approximately 50 mL of NaOH per digested sample.
4. Add 100 mL of indicating boric acid solution to a sufficient number of 250 mL Erlenmeyer flasks to distill each sample, standard or blank that has been digested. The graduated markings on the side of the flasks are sufficiently accurate for this purpose.
5. Place a filled 250 mL Erlenmeyer flask on the receiving station of the Rapid Still II. Verify that the ball of the receiving tube is below the surface of the receiving solution.
6. Carefully place the first sample to be distilled on the Rapid Still II. Turn the digestion tube ¼ to ½ turn while pressing upward toward the rubber seat to assure a vapor tight fit of the digestion tube to the still.
7. Verify that the power is on, the steam source is boiling and the distillation timer is set to 0 minutes.
8. Using the volume indicator on the back of the Rapid Still II, estimate the volume of liquid in the digestion tube. Within 10 mL is sufficiently accurate for the estimate.
9. “Tap” the NaOH addition switch on the front of the still to add NaOH in small increments. Violent reaction will occur, which is minimized by slow addition. After a few mLs are added, the solution may begin to turn dark and cloudy. This is normal, and will not affect the analysis. Continue addition until 50 mL of NaOH have been added, or until the addition of continued amounts of the solution does not result in a vigorous reaction within the vessel, whichever comes later. The absence of vigorous reaction is confirmation that the acid solution has been neutralized. During the NaOH addition process, significant bubbling may occur in the receiver vessel, and the solution may change colors from red/pink to gray, blue or green. This is due the emission of NH3 by the sample, and is normal.
10. When sufficient NaOH has been added, set the timer to 8 minutes and begin distillation. The goal is to distill 100 mL of liquid to the receiving flask, which will reach a total volume of 200 mL. Determine experimentally the correct time for 100 mL distillate and use this time on future analyses. (6 to 7 minutes is normal for the Rapid Still II.)
11. When the distillation is complete, turn the power off to the steam generator. Slowly add sufficient water to the generator to bring it back to the fill mark.
12. Remove the 250 mL Erlenmeyer (containing 200 mL of solution). Rinse the glass bulb with a small amount of distilled water, collecting it in the Erlenmeyer to clean the tube and avoid contamination of the following sample(s). Set the sample aside for titration.
13. Using an appropriate device for handling very hot glassware, remove the digestion tube from the holder. The dark solution may be disposed of by pouring it down a drain with copious amounts of water. **Note 2 at the end of the Distillation section.
14. Wipe the white tube that goes into the center of the digestion tube during distillation with a paper towel or similar material to remove any possible contamination for the next sample.
15. Return to step 5 and repeat steps 5 through 14 for all samples to be analyzed.
16. When all samples to be analyzed are distilled, place a sample that contains only 50 mL of distilled or deionized water in a 250 mL digestion tube on the sample stand.
17. Add approximately 20 mL of NaOH and distill for 6 minutes into an Erlenmeyer flask. It is not necessary to have receiver solution in the flask. 100 mL of tap or distilled water is sufficient.
18. When the blank sample is distilled, remove the digestion tube. Clean the rubber seal with a clean damp cloth. Apply a very thin film of stopcock grease or similar lubricant to the rubber seal. Place a clean, dry digestion tube in position. Remove the Erlenmeyer and rinse the round receiver tube with a small amount of distilled water. Turn off the power to the steam source. Refill the steam source with water, then turn off the power to the system. Turn off the water supply.

** Note 2. The drain disposal assumes use of a Cu, Ti or similar catalyst. Use of a mercury (Hg) catalyst requires proper disposal per local environmental regulations. Mercury catalyst should NOT be poured down a drain that empties into a public waste system.
Titration
(This method assumes manual titration using a 25 mL burette.)
The receiver solution was originally a bright pink to red color. The titration will be to a moderate pink. Do not try to duplicate the original color, as this would significantly over titrate the sample(s). The normal progression of color is from green (for a sample containing nitrogen. The blanks will in some cases not change color) to a deep gray with pink overtones, to a light pink. The first “pure” pink color with no hint of gray should be taken as the endpoint.
1. If a magnetic stirrer is to be used, add a stir bar to the sample. Otherwise, hold the sample and swirl it in a circular motion throughout the titration to assure rapid mixing of the acid with the sample.
2. Fill the burette to the 0 mark, or record the initial reading on the burette.
3. Add titrant slowly to the sample. An effective technique is to adjust the burette so that a steady, slow drip of titrant occurs. Stir or swirl continuously. As titrant is added, a pink color will be seen where the titrant enters the solution. As the endpoint nears, this colored area will increase in size, and persist for longer periods before being dispersed into the solution. That is an indicator to slow the addition of acid.
4. Continue to add titrant slowly, dropwise. A gray solution with a pink tint throughout will develop. The addition of a few more drops of titrant should result in a pink solution without the gray color. Record the mL of titrant used.
5. Repeat steps 2 through 5 until all blanks, standards and samples are titrated.
6. For automatic titration, refer to the operator’s manual of the autotitrator for setup instructions.

Calculation of Results
The general equation for the protein content is:
[(Vb – Vs)(N)(1.4007) / (W)] * F = percent protein
Vb = mL titrant for the blank(s)
Vs = mL titrant for the individual samples
N = Normality of the acid titrant (nominally 0.1)
1.4007 = a single factor that takes into account the molecular weight of nitrogen, the conversion of the milli-equivalent result of V*N, and the conversion to %.
W = the weight of sample in grams. The error is sufficiently small that, for samples weighed to 1.0000g +/- 0.0005 G, this can be assumed to be 1.
F = the factor for converting the percent nitrogen in a sample to percent protein. This factor varies based on sample type, and can vary greatly. (From approximately 5.2 for some nuts, to 6.7 for some meat products.) The regulating body for the analysis performed will usually provide the factor. If not, refer to the appropriate method, and use the factor located in that method.
The method can be validated by digesting organic materials of known nitrogen content; for example, aniline. By performing the above calculation and assuming a factor of 1, the correct percent nitrogen should be determined. The correct nitrogen percentage for aniline is 15.05%. A smaller sample of aniline should be analyzed due to the high nitrogen content. 100 mg (0.1000g) is recommended.
Technical information provided by Kevin Lackey.
Background for the Kjeldahl determination of Organic Nitrogen
The Kjeldahl method is an analytical method for the determination of nitrogen in the trinegative state in certain organic compounds. The method was developed in 1883 by Johan Kjeldahl, a Danish chemist, and is used extensively in the determination of protein in foods, since protein is a macromolecule made up of nitrogen containing amino acids linked together. When used for protein determination, the percent nitrogen measured is converted to the equivalent protein content by use of an appropriate numerical factor. For meat samples, this factor is 6.25 since meat protein is approximately 16%nitrogen. The Kjeldahl method does not account for N-N and N-O linkages (e.g., azides, nitrates, nitrites, nitro groups, etc.). Such samples must be pre-treated or subjected to reducing conditions before Kjeldahl analysis. The amino nitrogen in the sample is converted to ammonium bisulfate as the organic material in the sample is destroyed by digestion with boiling, concentrated sulfuric acid. Potassium sulfate is added to raise the boiling point of the mixture, thus speeding the decomposition. The amounts of sulfuric acid and potassium sulfate used must be controlled, depending on the amount of organic material present in the sample, to insure that a proper digestion temperature range of 370 - 400oC. is maintained. Too low a temperature may lead to long digestion times and/or incomplete digestion, while too high a ratio of potassium sulfate to sulfuric acid may raise the temperature above 400oC., thus resulting in pyrolytic loss of nitrogen and low results. A metal catalyst is also added to accelerate the digestion. Mercury has been the most common catalyst used, but copper and selenium are being used more now, for safety and environmental reasons.

After digestion of the sample is complete, excess sodium hydroxide is added to the digestion mixture to neutralize the remaining sulfuric acid and release the ammonia formed as the nitrogen containing molecule was oxidized. The ammonia is then distilled over into a measured excess of a standard acid, and the excess acid is back-titrated with a standard base. As an alternative, the ammonia can be distilled over into a boric acid solution, and the ammonia is then determined by direct titration with a standard acid. The ammonia can also be determined colorimetrically (e.g., via reaction with phenate ion) or by using an ammonia selective electrode. In these cases, a standard mineral acid should be used as the ammonia absorbent. If mercury or a mercuric salt is used as the catalyst, thiosulfate or sulfide is added with the sodium hydroxide to decompose any mercuric-ammonium complex, thus releasing the ammonia and precipitating the mercuric compound which may interfere with the distillation of the ammonia. Zinc granules, pumice or other suitable boiling stones are added to the distillation flask to prevent "bumping" which may lead to erroneous results due to carry-over of some of the caustic in addition to the ammonia. The reactions involved are summarized as follows:

Sample Digestion
Organic N + H2SO4 + Heat + Catalyst => CO2 + H2O + NH4HSO4

Neutralization of Digestion Mixture and Release of Ammonia
NH4HSO4 + 2NaOH => NH3 + Na2SO4 + H2O

Direct Titration of Ammonia
NH3 + HCl [or H2SO4] => NH4Cl [or (NH4)2SO4]

Back Titration of Standardized Acid
NaOH + HCl [or H2SO4] => NaCl [or Na2SO4] + H2O

If the ammonia, after absorption in boric acid solution, is titrated directly with a standardized acid, methyl red, methyl purple, or bromocresol green - methyl red mixed indicator can be used as the indicator. These indicators can also be used in a back-titration using standard sodium hydroxide, if an excess standard acid is used as the absorbent for the ammonia. Alternatively, the ammonia may quantitated by ion selective electrode (ISE).

http://www.foxscientific.com/Technical%20Ref/kjeldahl_SOP.htm

Kimia Anorganik - Unsur Au

Bab I
Pendahuluan

A. Logam
1. Sifat –Sifat istimewa logam
a. Kuat
Kecuali raksa, semua berwujud padat pada suhu kamar. Kekerasan dan kekuatan logam dapat ditimgkatkan dengan cara mencampurkan logam dengan logam yang lain atau dengan non logam yang disebut aliase(alloy).

b. Dapat ditempa dan dapat direnggangkan
Logam tidak hancur bila dipukul. Maka, logam dapat ditempa untuk membuat berbagai perkakas, barang kerajinan atau perhiasan. Logam dapat pula diulur menjadi kawat.

c. Konduktor lsitrik yang baik
Sifat ini yang mendasari penggunaan logam sebagai kabel listrik, serta alat memasak seperti ketel, panci dan kuali.

d. Mengkilap jika digosok
Logam dimanfaatkan sebagai perhiasan maupun untuk dekorasi karena memiliki sifat mengkilap jika di gosok.

e. Pada suhu kamar berwujud padat kecuali raksa (berwujud cair).

2. Metalurgi
Metalurgi adalah proses pengolahan bahan-bahan alam menjadi logam unsur yang selanjutnya menjadi logam dengan sifat-sifat yang diinginkan. Bahan anorganik alam yang ditemukan di kerak bumi disebut mineral.
Metalurgi melalui tiga tahapan, yaitu :
a. Pemekatan bijih
Di dalam bijih mengandung batuan tak berharga yang disebut batureja (gangue). Pemekatan bijih bertujuan untuk menyingkirkan sebanyak mungkin batureja. Pemisahan selanjutnya dapat dilakukan dengan cara fisis seperti pengapungan (flotasi) atau penarikan dengan magnet. Bijih yang telah dihancurkan diberi minyak tertentu. Mineral akan melekat pada buih sehingga terlepas dari batureja atau batureja akan melekat pada buih.

b. Peleburan
Peleburan (smelting) adalah proses reduksi bijih sehingga menjadi logam unsur yang dapat digunakan. Makin aktif logam makin sukar direduksi, sehingga diperlukan pereduksi yang lebih kuat. Logam yang kurang aktif sepeti tembaga dan emas dapat direduksi hanya dengan pemanasan. Seringkali proses peleburan ditambah dengan fluks, yaitu suatu bahan yang mengikat pengotor dan membentuk zat yang mudah mencair, yang disebut terak.

c. Pemurnian
Pemurnian (refining) adalah penyesuaian komposisi kotoran dalam logam kasar. Beberapa cara pemurnian:
- Elektrolisis
Misalnya pemurnian tembaga dan nikel.
- Destilasi
Misalnya pemurnian seng dan raksa.
- Peleburan ulang
Misalnya pemurnian besi.
- Pemurnian zona
Yaitu suatu cara modern yang dilaksanakan dalam pemurnian logam.
B. Emas
Emas ialah unsur kimia dalam sistem periodik unsur yang mempunyai simbol Au (L. aurum) dan nombor atom 79. Emas merupakan logam lembut, berkilat, berwarna kuning, padat, mudah ditempa, udah ditarik, logam peralihan (trivalen dan univalen), dan stabil, emas tidak bertindak bereaksi dengan kebanyakan bahan kimia. Walau bagaimanapun emas dapat bereaksi dengan klorin, fluorin dan akua regia. Logam ini selalunya hadir dalam bentuk bongkahan dan butiran batuan dan pendaman aluvial.

1. Sejarah Emas
Emas (Sanskrit jval, Yunani χρυσος = chrysos, Latin aurum, berarti fajar yang cerah, Anglo-Saxon gold, China 金 [jīn], Jepang 金 [kin]) telah diketahui sebagai sangat berharga sejak zaman prasejarah lagi. Emas dikenal antara lain di Mesopotamia dan Mesir. Pada abad pertengahan, begitu kuat orang mendambakan emas, sehingga lahir ilmu alkimia, dengan tujuan membuat emas. Manusia modern berhasil mencapai cita-cita itu dengan mengekstrak emas dari air laut dan mengubah timbel atau merkurium menjadi emas dalam mempercepat partikel. Namun emas yang murah tetaplah emas alamiah yang harus ditambang.
Emas telah lama dianggap sebagai logam yang paling berharga, dan nilainya telah digunakan sebagai standart untuk banyak mata uang dalam sejarah. Emas telah digunakan sebagai simbol kemurnian, nilai tinggi, kerajaan, dan lebih-lebih lagi peranan yang mengaitkan sifat-sifat tersebut.
Tujuan utama ahli alkimia adalah untuk menghasilkan emas dari bahan yang lain, seperti karbon – kemungkinan melalui interaksi dengan sejenis bahan dongeng yang disebut batu bertuah. Meskipun usaha mereka tidak pernah mendapat hasil, namun ahli alkimia telah menaikkan keminatan terhadap bidang melibatkan unsur, yang menjadi asas kepada bidang kimia masa kini.

Simbol mereka untuk emas ialah bulatan dengan titik di tengah-tengah, yang merupakan simbol dalam bidang astrologi. Simbol dalam karakter Cina kuno adalah matahari (日).
Pada sekitar abad ke-19, pencarian emas muncul kapanpun ketika terdapat pendaman emas dijumpai, termasuklah di California, Colorado, Otago, Australia, Black Hills, dan Klondike.

2. Perolehan Emas
Lautan dunia memiliki jumlah emas yang banyak, tapi konsentrasinya sangat sedikit (mungkin 1 – 2 bagian per miliar). Fritz Haber (Penemu proses Haber dari Jerman) mengusahakan ektraksi komersil emas dari air laut dalam usahnya untuk membantu pembayaran ganti rugi Jerman setelah Perang Dunia I. Sayangnya, perkiraannya pada konsentrasi emas di air laut terlalu tinggi, mungkin tergantung pada cemaran sampel. Usaha untuk memproduksi emas yang sedikit dan harga pemerintahan Jerman lebih jauh dari harga komersil emas. Tidak ada mekanisme komersil yang bagus untuk ektraksi emas dari air laut yang telah diidentifikasi.

3. Produksi Emas di Indonesia
Sebelum Perang Dunia II, Indonesia adalah penghasil emas terbesar di Asia Tenggara. Satu-satunya pengelola tambang emas di Indonesia pada awal tahun 1980-an adalah PT Aneka Tambang, sebuah BUMN di bawah Departemen Pertambangan dan Energi.
Tiga penambang emas besar di Indonesia menurut data tahun 1987 adalah:
- PT Freeport Indonesia Inc. yang berlokasi di Tembagapura, Papua dengan jumlah produksi 2,2 ton/tahun (1986).
- PT Lusang Mining yang berlokasi di Bengkulu dengan jumlah produksi 300 kg/tahun (1986).
- PT Aneka Tambang (Persero) berlokasi di Cikotok, Jawa Barat dengan jumlah produksi 240 kg/tahun (1986).

C. Sifat Emas
Emas merupakan logam yang sangat berharga karena keberadaannya yang sangat langka di alam, tidak mudah berkarat atau memudar, tahan lama, memiliki warna yang menarik. Emas murni itu halus. Emas biasa dikeraskan dengan mencampurkannya dengan kuningan atau perak. Bagian emas yang terdapat dalam campuran diukur dalam karat. Emas murni memiliki kadar 24 karat. Campuran seimbang bagian emas dan perak adalah 12 karat, emas 18 karat → 18/24 berarti emas 75 %. Emas dapat dibentuk jadi lembaran demikian tipis sehingga tembus pandang.
Emas ialah unsur logam yang berwarna kuning berkilauan tetapi boleh juga berwarna seperti delima atau hitam apabila dibahagi dengan halus. Larukan koloid emas pula mempunyai warna berkeamatan tinggi yang biasanya berwarna ungu.
Warna yang terdapat pada emas adalah disebabkan oleh frekuensi plasmon emas yang terletak pada julat penglihatan, mengakibatkan warna merah dan kuning dipantulkan sementara warna biru diserap. Hanya koloid perak mempunyai interaksi yang sama terhadap cahaya, tetapi dalam frekuensi yang lebih pendek, sehingga menyebabkan warna koloid perak menjadi kuning.
Emas juga merupakan logam yang paling mudah ditempa dan ditarik. Satu gram emas boleh ditempa menjadi satu keranjang berukuran panjang satu meter dan lebar satu meter. Emas biasanya dialoikan dengan logam yang lain untuk menjadikannya lebih keras.
Emas merupakan penghantar panas dan listrik yang baik, dan tidak dipengaruhi oleh udara dan kebanyakan reagen. Secara kimianya, logam emas tidak boleh diubah oleh panas, kelembapan.
Emas asli mengandungi antara 8% dan 10% perak, tetapi biasanya kandungan tersebut lebih tinggi. Aloi semula jadi dengan kandungan perak yang tinggi dipanggil elektrum. Apabila jumlah perak bertambah, warnanya menjadi lebih putih. Aloi dengan kuprum menghasilkan logam kemerahan, aloi besi berwarna hijau, dan aloi aluminum berwarna ungu. Keadaan pengoksidaan emas yang biasa termasuk +1 dan +3.

Bab II
Pembahasan

A. Komposisi Emas
Emas dapat ditempa sedemikian tipisnya sehingga tumpukan dari 120000 lembar tidak lebih dari 1 cm tebalnya. 1 gram emas dapat diulur menjadi kawat sepanjang 2,5 km. Secara kimiawi emas tergolong inert sehingga disebut logam mulia. Emas tidak bereaksi dengan oksigen dan tidak terkorosi di udara. Emas juga tidak berekasis dengan asam atau basa apapun. Akan teteapi emas dapat larut pada akua regia, yaitu campuran tiga bagian volum asam klorida pekat dan atau bagian volum asam nitrat pekat.
Au(s) + 4HCL (aq) + HNO3(aq) → HAuCl4(aq) + NO (g) + 2H2O(l)

Untuk mendapatkan emas yang keras maka emas dipadukan dengan tembaga atau perak. Kadar emasnya dinyatakan dalam karat atau persen. Emas murni 24 karat. Emas 18 karat berarti 18 bagian emas dan 6 bagian logam lain. Untuk emas merah atau kuning adalah aloi dengan tembaga. Emas putih adalah aloi emas dengan platinum, iridium, nikel, atau zink. Aloi besi berwarna hijau, dan aloi aluminum berwarna ungu.

B. Produksi Emas
Ekstraksi emas secara ekonomi dapat diperoleh dari nilai biji emas sekecil 0,5 gr/1000 kg (0,5 ppm) rata-rata dengan mudah digali, nilai biji emas khas dalam galian terowongan terbuka yakni 1,5 gr/1000 kg (1 – 5 ppm), nilai biji emas dalam tanah atau galian batu paling tidak 3 gr/1000 kg (3 ppm).
Nilai biji emas 30 gr/1000 kg (30 ppm) biasanya dibutuhkan sebelum emas dapat dilihat dengan mata telanjang, oleh karena itu dalam kebanyakan galian emas, Anda tidak akan melihat emas apapun.




Sejak tahun 1880-an, Afrika Selatan telah menjadi sumber untuk sebagian besar sediaan emas dunia. Produksi di tahun 1970 dihitung hingga 70 % sediaan dunia, memproduksi sekitar 1000 ton, namun produksi di tahun 2004 hanya 342 ton. Penurunan ini berhubungan dengan bertambahnya kesulitan dalam ektraksi dan faktor ekonomi yang memperngaruhi industri Afrika Selatan.
Produser utama lainnya, yakni Kanada, Amerika Serikat, dan Australia Barat. Galian di Dakota Selatan dan Nevada menyediakan dua pertiga emas yang digunakan di Amerika Serikat. Daerah Siberia di Rusia juga terbiasa sebagai negara penting dalam industri galian emas. Ladang Emas Kolar di India adalah contoh lain untuk kota yang sedang dibangun untuk bahan galian emas terbesar di India.
Namun, mungkin untuk mendapat sejumlah kecil emas dalam jumlah yang tidak terbatas dengan kecerdasan transformasi nuklir dalam akselerator partikel. Isotop emas menghasilkan kemiripan radioaktif. Tidak ada sama sekali metode secara ekonomi yang mungkin untuk membuat emas dengan cerdas yang telah ditemukan dan dipublikasikan.
Emas dipisahkan daripada bijihnya menggunakan sianida, amalgam, dan peleburan. Pemurnian logam biasanya dijalankan menggunakan elektrolisis. Logam ini terdapat di dalam air laut pada kepekatan 0,1 - 2 mg/ton bergantung kepada kedudukan sampel. Walau bagaimanapun, sehingga kini yaitu tahun 2006 tidak terdapatnya apa-apa cara yang boleh memberi hasil keuntungan sekiranya emas diperoleh selain dari air laut.

C. Pemurnian Emas
Pemurnian emas dilakukan dengan cara sianidasi langsung, sianidasi dengan karbon. Proses pemurnian ini didasarkan pada proses yang terdiri dari biji dengan suatu larutan natrium sianida atau suatu ekivalen sianida lalu setelah memisahkan larutan dari pengotor, presipitasi emas, biasanya dilakukan dengan zink atau aluminium dan kadang-kadang dengan logam lain.



Persamaan reaksi yang umum digunakan untuk pemisahan emas dalam larutan alkali sianida adalah:
2Au + 4CN- + ½O2 + H2O → 2[Au(CN)2]- + 2OH-
Mekanisme reaksi ini adalah mekanisme elektrokimia. Hidrogen peroksidan telah dideteksi dalam larutan sianida di mana emas telah terpisah secara cepat, dan observasi ini menunjukkan bahwa beberapa emas kemungkinan terpisah melalui sepasang reaksi yang melibatkan pembentukan pertama hidrogen peroksida.
2Au + 4CN- + O2 + H2O → 2[Au(CN)2]- + 2OH- + H2O2
Lalu hidrogen peroksida bereaksi dengan beberapa emas dan sianida.
2Au + 4CN- + H2O2 → 2[Au(CN)2]- + 2OH-

Hanya univalen emas yang diperoleh dalam larutan sianida, sehingga pemisahan oksigen pada tekanan atmosfer tidak dapat mengoksidasinya. Oksigen dari udara adalah agen pengoksidasi untuk memisahkan emas dalam suatu larutan sianida.
Setelah emas dipisahkan dari larutan sianida dan dari residunya, langkah selanjutnya adalah memurnikan emas sambil menyimpan larutan untuk dipakai kembali. Presipitan yang digunakan adalah zink, yang menggantikan emas dalam larutan sianida melalui suatu reaksi:
2[Au(CN)2]- + Zn → 2Au + [Zn(CN)4]2-
Presipitan lain yang dipakai adalah aluminium, yang lebih sederhana daripada zink dan meregenasi sianida secara langsung.
2[Au(CN)2]- + 3OH- + Al → 3Au + 6CN- + Al(OH)3

Emas biasanya juga dimurnikan dari larutan sianida melalui elektrolisis. Proses ini melibatkan penggunaan ;arutan alkali sianida sebagai elektrolit dalam suatu sel di mana besi merupakan suatu anoda dan aluminium pada katoda. Reaksi sel yang terjadi adalah
2[Au(CN)2]- + 2OH- → 2Au + 4CN- + H2O + ½O2



Pada proses sianidasi, logam zink akan mengendapkan emas dari larutan sianida. Dalam sianidasi dengan karbon, bijih emas dilumat menjadi bubur dan emasnya dilarutkan dalam larutan sianida. Kemudian ditambahkan karbon aktif untuk mengadsorpsi ion-ion kompleks emas. Karbon ini dipisahkan dari bubur emas dengan suatu teknik penapisan. Akhirnya emas dilepaskan dari karbon dengan memasukkan karbon dalam larutan sianida kaustik panas.
Emas dipisahkan dari larutan berdasarkan reaksi:
4Au + 8CN- + H2O + O2 → 4[Au(CN)2]- + 4OH-
2[Au(CN)2]- + Zn → 2Au + [Zn(CN)4]2-
Emas diperoleh dari beberapa proses di atas masih dikotori oleh logam zink. Emas murni diperoleh dengan cara elektrolisis atau pelarutan pengotor dalam H2SO4 atau HNO3.

D. Reaksi Kimia Unsur
Tingginya nilai potensial reduksi emas mengakibatkan logam ini selaku terdapat di alam dalam keadaan bebas. Untuk keperluan ektraksi dari bijihnya, proses dengan melibatkan senyawa sianida dapat diterapkan seperti halnya pada ekstraksi logam perak. Emas membentuk berbagai senyawa kompleks, tetapi hanya sedikit senyawa anorganik sederhana. Emas (I) oksida, Au2O, adalah salah satu senyawa yang stabil dengan tingkat oksidasi +1, seperti halnya tembaga, tingkat oksidasi +1 ini hanya stabil dalam senyawa padatan, karena semua larutan garam emas (I) mengalami disproporsionasi menjadi logam emas dan ion emas (III) menurut persamaan reaksi:
3Au+(aq) → 2Au(s) + Au3+(aq)

1. Reaksi emas dengan udara
Logam emas stabil di udara di bawah kondisi normal. Namun emas terurai dalam larutan sianida dalam tekanan udara.

2. Reaksi emas dengan air
Emas tidak bereaksi dengan air.
3. Reaksi emas dengan halogen
Logam emas bereaksi dengan klorin, Cl2, atau bromin, Br2, untuk membentuk trihalida emas (III) klorida, AuCl3, atau emas (III) bromida, AuBr3.
2Au(s) + 3Cl2(g) → 2AuCl3(s)
2Au(s) + 3Br2(g) → 2AuBr3(s)

AuCl3 dapat larut dalam asam hidroksida pekat menghasilkan ion tetrakloroaurat (III), [AuCl4]-, suatu ion yang merupakan salah satu komponen dalam “emas cair”, yaitu suatu campuran spesies emas dalam larutan yang akan mengendapkan suatu film logam emas jika dipanaskan.
Di lain pihak, logam emas bereaksi dengan iodin, I2, untuk membentuk monohalida, emas (I) iodida, AuI.
2Au(s) + I2(g) → 2AuI(s)

4. Reaksi emas dengan asam
Logam emas terurai dalam akua regia, campuran asam klorida, HCl, dan asam nitrat pekat, HNO3, dengan perbandingan 3:1. Nama akua regia diciptakan oleh alkemis karena kemampuannya untuk menguraikan “raja logam”.

5. Reaksi emas dengan basa
Emas tidak bereaksi dengan larutan basa.

E. Proses Produksi
1. Alat
a. Neraca f. Bor mesin/alat ukir
b. Koi/cawan g. Alat penggilingan emas
c. Tangki bahan bakar h. Sengki
d. Pompa bahan bakar i. Mesin pemoles
e. Blender; pemanasan j. Panci pemanas

2. Bahan
a. Sendawa 2 % d. NaCl 1 %
b. Tawas 1 % e. H2O
c. Bensin f. Deterjen

3. Cara Kerja
a. Pemadatan
Emas dipadatkan dengan cara dipukul-pukul supaya bentuk strukturnya tidak mudah pecah.

b. Pemotongan
Emas batangan ditimbang menggunakan neraca kemudian dipotong sesuai dengan bentuk yang diinginkan menggunakan gunting pemotong.

c. Penggilingan
Setelah emas dipotong-potong menjadi bagian yang kecil-kecil. Emas dimasukkan ke dalam alat penggilingan untuk dibentuk menjadi bentuk perhiasan (cincin, kalung, gelang).

d. Pemanasan
Perhiasan dipanaskan ke dalam panci pemanas dengan menambahkan larutan sendawa 2 %, tawas 1 %, NaCl 1 %, H2O. Penambahan zat tersebut digunakan agar perhiasan emas berwarna kuning mengkilat.

e. Pemolesan
Sebelum dipoles dengan alat pemoles, perhiasan diukir dengan bor mesin sesuai dengan bentuknya, kemudian dicuci dengan bensin dilankitkan dengan deterjen dan dibilas dengan air, lalu dikeringkan.


f. Pemasakan
Perhiasan dimasak dalam panci yang dipanaskan dengan larutan sendawa 2 %, tawas 1 %, NaCl 1 %, hingga dua kali proses pemasakan.

g. Penggosokkan
Perhiasan digosok dengan menggunakan alat yaitu sengki yang bertujuan supaya perhiasan emas bisa berwarna kuning mengkilat.

Bor mesin adalah suatu alat yang digunakan untuk menjadikan perhiasan menjadi bentuk yang diinginkan, dan perhiasan dapat digunakan untuk pengujian kadar.
Alat penggilingan emas berfungsi untuk menggiling sampel sehingga diperoleh sampel yang halus sehingga dapat mempercepat proses pemasakan.
Sendawa/Salpeter disebut niter, ada tiga mineral yang mendukung nama ini, salpeter biasanya adalah kalium nitrat (KNO3), salpeter Norwegia/salpeter kapur (kalsium nitrat, Ca(NO3)2), salpeter natrium (natrium nitrat teknis), dibuat dengan mereaksikan kalium klorida dengan asam nitrat/natrium nitrat.
Jika salpeter tidak tersedia maka asam nitrat dibuat dari nitrogen udara dan salpeter justru dibuat dengan mereaksikan asam nitrat itu dengan oksida natrium atau kalsium.
Perhitungan kadar emas dengan rumus:








F. Kegunaan Emas
Emas murni adalah terlalu lembut untuk kegunaan biasa, oleh itu logam ini ditambahkan kekerasannya dengan mengaloikannya bersama perak (argentum), tembaga (kuprum) dan logam-logam lain. Emas dan pelbagai jenis aloi emas biasanya digunakan dalam pembuatan perhiasan, pembuatan uang logam, dan sebagai standart pertukaran perdagangan dalam banyak negara. Selain itu, emas dapat menghantarkan listrik dengan amat baik. Ini menjadikan emas muncul sebagai logam industri penting pada akhir abad ke 20.

Kegunaan lain:
1. Emas memainkan beberapa peranan penting dalam pembuatan komputer, alat komunikasi, kapal angkasa, mesin pesawat jet, kapal terbang, dan hasil pengeluaran yang lain.
2. Daya tahan terhadap pengoksidaan membolehkan emas digunakan secara berleluasa dalam pembuatan lapisan nipis elektroplat pada permukaan penyambung elektrik untuk memastikan penyambungan yang baik.
3. Seperti perak, emas boleh membentuk amalgam keras bersama raksa, dan ini kadang kala digunakan sebagai bahan pengisi gigi.
4. Emas koloid (nanopartikel emas) ialah larutan berwarna berkeamatan tinggi yang kini sedang dikaji di dalam makmal-makmal untuk kegunaan perubatan dan biologi (kaji hayat). Ia juga merupakan bentuk yang sering digunakan dalam pengecatan emas pada seramik sebelum seramik dibakar.
5. Asam kloraurik digunakan dalam fotografi untuk memberi toning kepada gambar perak.
6. Dinatrium aurothiomalate digunakan dalam pengobatan artritis rheumatoid (diberikan secara suntikan intra-otot).
7. Isotop emas Au-198, (Waktu paro: 2,7 hari) digunakan dalam pengobatan kanker dan pengobatan penyakit lain.
8. Emas digunakan sebagai bahan pelapisan untuk membolehkan bahan biologi diperhatikan di bawah skan mikroskop elektron.
9. Banyak pertandingan dan penganugerahan, seperti Olimpiade dan Anugerah Nobel, pemenangnya akan meraih medali emas (manakala perak diberikan kepada pemenang kedua, dan perunggu kepada yang ketiga).

G. Bahaya Emas
Badan manusia tidak dapat menyerap logam ini dengan baik dan senyawa emas kebiasaannya tidak begitu beracun. Namun dilaporkan lebih 50% penderita artritis yang dirawat dengan obat yang mengandungi emas mengalami kerusakan hati dan ginjal.